Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

Menyingkap Pesona Tajwid: Panduan Lengkap Surat Ali Imran 190-191 untuk PAI Kelas 11

Avatar of Mais Nurdin
4
×

Menyingkap Pesona Tajwid: Panduan Lengkap Surat Ali Imran 190-191 untuk PAI Kelas 11

Sebarkan artikel ini
Image from adjar.grid.id
Source: adjar.grid.id

Al-Qur’an, sebagai pedoman hidup umat Islam, menyimpan kekayaan makna dan keindahan bahasa yang tak tertandingi. Namun, keindahan dan kesempurnaan pesannya hanya dapat tersampaikan sepenuhnya melalui pembacaan yang benar dan tartil.

Inilah mengapa ilmu tajwid memegang peranan krusial. Khusus bagi para pelajar PAI kelas 11 Kurikulum Merdeka, mendalami hukum tajwid pada Surat Ali Imran ayat 190-191 bukan sekadar tugas, melainkan perjalanan memahami kalam Ilahi secara lebih mendalam dan sesuai tuntunan.

SCROL UNTUK MEMBACA ARTIKEL
Advertisment

Memahami Makna Surat Ali Imran Ayat 190-191

Surat Ali Imran ayat 190-191 merupakan inti ajaran tentang Ulul Albab, yaitu orang-orang yang memiliki akal sehat dan senantiasa berzikir serta bertafakur atas ciptaan Allah SWT. Ayat ini mendorong manusia untuk merenungi keagungan penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya malam dan siang.

Renungan ini akan mengantarkan pada kesadaran akan keesaan dan kekuasaan Allah, serta menjauhkan diri dari anggapan bahwa penciptaan semesta raya ini sia-sia. Dengan demikian, ayat ini menjadi seruan bagi manusia untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui zikir dan tafakur.

Surat Ali Imran Ayat 190

Berikut adalah lafaz Surat Ali Imran ayat 190 dalam bahasa Arab:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”

Surat Ali Imran Ayat 191

Kemudian, lafaz Surat Ali Imran ayat 191:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Mengapa Tajwid Penting? Landasan Membaca Al-Qur’an

Tajwid adalah ilmu yang mempelajari cara membaca huruf-huruf Al-Qur’an dengan benar dan sesuai dengan makhraj (tempat keluar huruf) dan sifat-sifatnya. Mempelajari tajwid menjadi sebuah keharusan bagi setiap muslim yang ingin membaca Al-Qur’an.

Tujuan utamanya adalah menghindari kesalahan dalam membaca, yang bisa mengubah makna ayat. Dengan membaca secara tartil dan bertajwid, kita dapat merasakan keindahan kalam Allah serta menjaga keaslian bahasa Arab Al-Qur’an.

Kesalahan dalam makhraj atau panjang pendek bacaan (mad) dapat mengubah arti kata secara drastis, bahkan bisa menyesatkan pemahaman. Oleh karena itu, tajwid adalah jembatan untuk memahami dan menghayati Al-Qur’an secara tepat.

Bedah Hukum Tajwid Surat Ali Imran Ayat 190

Mari kita ulas beberapa hukum tajwid penting yang terdapat dalam ayat 190 Surat Ali Imran:

Inna (إِنَّ)

  • Ghunnah: Huruf nun bertasydid (نّ) harus dibaca dengan dengung yang jelas selama dua harakat.

Fii Khalqis Samaawaati (فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ)

  • Mad Thabi’i: Pada kata ‘fii’ (فِي), terdapat ya sukun setelah huruf berharakat kasrah, dibaca panjang dua harakat.
  • Alif Lam Syamsiyah: Pada kata ‘as-samaawaati’ (السَّمَاوَاتِ), alif lam bertemu huruf syamsiyah (sin), sehingga lam tidak dibaca.
  • Mad Thabi’i: Terdapat alif setelah fathah pada ‘samaawaati’ (مَاوَا) dibaca panjang dua harakat.

Wal Ardhi (وَالْأَرْضِ)

  • Alif Lam Qomariyah: Pada kata ‘wal ardhi’ (وَالْأَرْضِ), alif lam bertemu huruf qomariyah (alif), sehingga lam dibaca jelas.
  • Ra Tafkhim: Huruf Ra (رْ) yang berharakat sukun didahului fathah, sehingga dibaca tebal.

Waakhtilaafillaili Wan-Nahaari (وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ)

  • Mad Thabi’i: Terdapat alif setelah fathah pada ‘ikhtilaafi’ (لَا) dibaca panjang dua harakat.
  • Alif Lam Syamsiyah: Pada ‘al-laili’ (اللَّيْلِ) dan ‘an-nahaari’ (وَالنَّهَارِ), alif lam bertemu huruf syamsiyah (lam dan nun), sehingga lam tidak dibaca.
  • Ghunnah: Pada ‘wan-nahaari’ (وَالنَّهَارِ), nun bertasydid (نّ) harus dibaca dengan dengung.
  • Ra Tafkhim: Huruf Ra (رِ) jika diwaqafkan menjadi sukun dan didahului fathah, dibaca tebal.

Li Aayaatil Li Uulil Albaab (لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ)

  • Mad Wajib Muttasil: Pada ‘li-aayaatin’ (لَآيَاتٍ), mad thabi’i bertemu hamzah dalam satu kata, dibaca panjang empat atau lima harakat.
  • Idgham Bila Ghunnah: Pada ‘aayaatil li’ (آيَاتٍ لِأُولِي), tanwin (ٍ) bertemu huruf Lam (ل), dibaca melebur tanpa dengung.
  • Alif Lam Qomariyah: Pada ‘al-albaab’ (الْأَلْبَابِ), alif lam bertemu huruf qomariyah (alif), sehingga lam dibaca jelas.
  • Mad Aridh Lissukun: Pada ‘al-albaab’ (الْأَلْبَابِ) jika diwaqafkan, mad thabi’i bertemu huruf hidup yang disukunkan, dibaca panjang dua, empat, atau enam harakat.

Mengurai Tajwid Surat Ali Imran Ayat 191

Berikut adalah rincian hukum tajwid yang bisa ditemukan dalam ayat 191:

Alladzina Yadz-kuruunallaha (الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ)

  • Alif Lam Syamsiyah: Pada ‘alladzina’ (الَّذِينَ), alif lam bertemu huruf syamsiyah (dzal), sehingga lam tidak dibaca.
  • Mad Thabi’i: Pada ‘alladzina’ (ذِي) dan ‘yadzkuruuna’ (رُو), terdapat ya sukun setelah kasrah dan wawu sukun setelah dhommah, dibaca panjang dua harakat.
  • Lam Jalalah Tafkhim: Pada ‘Allah’ (اللَّهَ), huruf lam pada lafaz Allah dibaca tebal karena didahului huruf berharakat dhommah.

Qiyaaman wa Qu’uudan wa ‘Alaa Junuubihim wa Yatafakkaruun (قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ)

  • Mad Thabi’i: Pada ‘qiyaaman’ (يَا) dan ‘ala’ (عَلَىٰ), terdapat alif setelah fathah atau alif kecil, dibaca panjang dua harakat.
  • Idgham Bi Ghunnah: Pada ‘qiyaaman wa’ (قِيَامًا وَ) dan ‘qu’uudan wa’ (وَقُعُودًا وَ), tanwin bertemu huruf wawu, dibaca melebur dengan dengung.
  • Idzhar Syafawi: Pada ‘junuubihim wa’ (جُنُوبِهِمْ وَ), mim sukun bertemu huruf wawu, mim dibaca jelas tanpa dengung.
  • Mad Thabi’i: Pada ‘yatafakkaruuna’ (رُو), wawu sukun setelah dhommah dibaca panjang dua harakat.

Fii Khalqis Samaawaati Wal Ardhi (فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ)

  • Mad Thabi’i: Pada ‘fii’ (فِي), ya sukun setelah kasrah dibaca panjang dua harakat.
  • Alif Lam Syamsiyah: Pada ‘as-samaawaati’ (السَّمَاوَاتِ), alif lam bertemu sin, lam tidak dibaca.
  • Mad Thabi’i: Terdapat alif setelah fathah pada ‘samaawaati’ (مَاوَا) dibaca panjang dua harakat.
  • Alif Lam Qomariyah: Pada ‘wal ardhi’ (وَالْأَرْضِ), alif lam bertemu alif, lam dibaca jelas.
  • Ra Tafkhim: Huruf Ra (رْ) yang berharakat sukun didahului fathah, sehingga dibaca tebal.

Rabbanaa Maa Khalaqta Haadzaa Baathilan Subhaanaka Faqinaa ‘Adzaaban Naar (رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ)

  • Mad Thabi’i: Pada ‘rabbanaa’ (نَا), ‘maa’ (مَا), ‘haadzaa’ (هَٰذَا), ‘subhaanaka’ (حَا), ‘faqinaa’ (نَا), dan ‘adzaaba’ (ذَا), terdapat alif setelah fathah atau alif kecil, dibaca panjang dua harakat.
  • Ikhfa’ Haqiqi: Pada ‘baathilan subhaanaka’ (بَاطِلًا سُبْحَانَكَ), tanwin bertemu huruf sin, dibaca samar dengan dengung.
  • Alif Lam Syamsiyah: Pada ‘an-naar’ (النَّارِ), alif lam bertemu nun, lam tidak dibaca.
  • Ghunnah: Nun bertasydid (نّ) pada ‘an-naar’ harus dibaca dengan dengung.
  • Ra Tarqiq: Huruf Ra (رِ) yang berharakat kasrah dibaca tipis, atau jika diwaqafkan menjadi sukun didahului kasrah, juga dibaca tipis.
  • Mad Aridh Lissukun: Pada ‘an-naar’ (النَّارِ) jika diwaqafkan, mad thabi’i bertemu huruf hidup yang disukunkan, dibaca panjang dua, empat, atau enam harakat.

Memahami hukum tajwid pada Surat Ali Imran ayat 190-191 adalah langkah penting bagi setiap pelajar PAI kelas 11. Ini bukan hanya tentang memenuhi kurikulum, tetapi juga tentang membentuk kebiasaan membaca Al-Qur’an dengan benar, tartil, dan penuh penghayatan.

Dengan menerapkan ilmu tajwid, kita bukan hanya melafazkan ayat-ayat suci, melainkan juga menjaga kemurnian wahyu, merasakan kedalaman maknanya, dan meraih keberkahan dalam setiap huruf yang kita baca. Semoga panduan ini membantu Anda dalam perjalanan mendalami kalamullah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *