Aroma duka menyelimuti Stadion Giuseppe Sinigaglia, kandang Como 1907, dalam sebuah pertandingan penting di Serie B Liga Italia. Namun, di tengah kesedihan yang mendalam itu, semangat juang tak pernah padam.
Tim berjuluk I Lariani, yang kala itu diasuh oleh sosok karismatik seperti Cesc Fabregas dalam jajaran staf kepelatihan dan kepemimpinan di lapangan, menghadapi Pisa dalam sebuah laga yang bukan sekadar perebutan poin, melainkan sebuah bentuk penghormatan terakhir.
Pertandingan ini didedikasikan sepenuhnya untuk mengenang kepergian Michael Bambang Hartono, salah satu pemilik utama klub yang meninggal dunia hanya beberapa hari sebelumnya. Momen ini menjadi saksi bisu bagaimana sepak bola bisa menyatukan duka dan tekad dalam sebuah pertunjukan yang penuh makna.
Sosok Inspiratif di Balik Como 1907: Michael Bambang Hartono
Michael Bambang Hartono, atau sering disapa Robert Budi Hartono, adalah salah satu figur sentral di balik kebangkitan Como 1907. Bersama saudaranya, R. Budi Hartono, ia dikenal sebagai konglomerat terkemuka Indonesia pemilik Djarum Group dan Bank Central Asia (BCA).
Melalui perusahaan investasinya, SENT Entertainment, keluarga Hartono mengakuisisi Como 1907 pada tahun 2019. Akuisisi ini menandai babak baru bagi klub yang sempat terpuruk hingga ke Serie D, liga kasta keempat Italia.
Visi mereka bukan hanya sekadar investasi finansial, melainkan juga pembangunan klub yang berkelanjutan, pengembangan talenta muda, dan integrasi dengan komunitas lokal. Di bawah kepemimpinan mereka, Como 1907 perlahan tapi pasti merangkak naik, kembali ke Serie B, dan menunjukkan ambisi untuk mencapai Serie A.
Laga Penuh Dedikasi Melawan Pisa
Pada tanggal 13 April 2024, hanya dua hari setelah kabar duka kepergian Michael Bambang Hartono, Como 1907 harus bertanding melawan Pisa. Pertandingan ini menjadi ujian mental dan emosional yang berat bagi seluruh tim.
Para pemain dan staf pelatih menyadari betul beban yang mereka pikul. Laga tersebut bukan hanya untuk klasemen, melainkan sebuah ‘kado’ perpisahan terbaik untuk bos besar mereka yang telah berpulang.
Dalam suasana haru tersebut, para punggawa I Lariani menunjukkan determinasi luar biasa. Mereka berjuang sepenuh hati di setiap jengkal lapangan, mengubah kesedihan menjadi motivasi.
Kemenangan Dramatis Sebagai Penghormatan
Dan memang, Como 1907 berhasil memberikan penghormatan terbaik yang bisa mereka berikan: sebuah kemenangan gemilang. Mereka menaklukkan Pisa dengan skor meyakinkan 3-1.
Kemenangan ini terasa sangat emosional, bukan hanya bagi para pemain dan staf, tetapi juga bagi para penggemar yang hadir di stadion. Gol-gol yang tercipta seakan menjadi penanda bahwa semangat Michael Bambang Hartono akan terus hidup dan menginspirasi perjalanan klub.
Hasil positif ini menjadi bukti nyata kekuatan mental dan persatuan dalam tim, membuktikan bahwa mereka mampu mengatasi duka dengan performa terbaik di lapangan. Sebuah perpisahan yang begitu berkesan, sekaligus janji untuk melanjutkan warisan yang telah ditinggalkan.
Warisan yang Akan Terus Hidup
Michael Bambang Hartono meninggalkan warisan yang tak ternilai bagi Como 1907. Visi jangka panjangnya untuk klub tidak hanya berfokus pada prestasi instan, tetapi juga pada pembangunan infrastruktur, akademi sepak bola yang kuat, dan keterlibatan aktif dalam komunitas.
Pendekatan filantropis dan bisnis yang cerdas telah mengangkat Como dari keterpurukan dan menjadikannya salah satu klub yang paling menarik perhatian di Italia.
Kini, tugas untuk meneruskan cita-cita tersebut berada di pundak manajemen, staf pelatih, dan para pemain. Semangat dan dedikasi yang ditunjukkan dalam laga melawan Pisa adalah sebuah sinyal kuat bahwa mereka siap mengemban amanah itu.
Perjalanan Como 1907, dengan sentuhan Indonesia di hatinya, akan terus berlanjut. Setiap pertandingan, setiap kemenangan, dan setiap langkah maju akan selalu menjadi bagian dari penghormatan terhadap Michael Bambang Hartono, sang visioner yang mewujudkan mimpi di tepi Danau Como.












