Scroll untuk baca artikel
Teknologi

Transformasi Indosat Ooredoo: Dari Telekomunikasi Menjadi Raksasa Teknologi Penggerak Ekosistem AI

Avatar of Mais Nurdin
7
×

Transformasi Indosat Ooredoo: Dari Telekomunikasi Menjadi Raksasa Teknologi Penggerak Ekosistem AI

Sebarkan artikel ini
Transformasi Indosat Ooredoo Dari Telekomunikasi Menjadi Raksasa Teknologi Penggerak Ekosistem AI

Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) telah menorehkan langkah signifikan dalam dua tahun terakhir, bertransformasi dari sekadar perusahaan telekomunikasi menjadi pemain utama di ranah teknologi. Perubahan ini mencerminkan visi strategis perusahaan untuk tidak hanya menyediakan konektivitas, tetapi juga menjadi motor penggerak inovasi digital di Indonesia.

VP Head of External Communication Indosat Ooredoo Hutchison, Eni Nur Ifati, memaparkan bahwa pandangan umum mengenai telekomunikasi seringkali terfokus pada aspek teknis. Hal ini mencakup pembangunan infrastruktur seperti jaringan, menara pemancar sinyal (BTS), hingga pemasangan kabel optik yang membentang melintasi pulau-pulau di seluruh Indonesia.

“Semua upaya tersebut memang bertujuan untuk menghubungkan masyarakat, bahkan hingga ke pelosok negeri. Namun, bagi kami, inti persoalannya bukan sekadar pada teknologi atau keberadaan BTS itu sendiri, karena hal tersebut sudah menjadi sebuah keniscayaan. Yang ingin kami tekankan adalah bahwa koneksi merupakan sebuah enabler, atau pemberdaya,” ujar Eni dalam acara media gathering Indosat Ooredoo Hutchison yang diadakan di Puncak, Bogor, pada Selasa malam, 2 Desember 2025.

Menurutnya, teknologi seperti BTS, kabel laut, Wi-Fi, serta sinyal 4G/5G bukanlah pesan utama yang ingin disampaikan. Lebih dari itu, Indosat Ooredoo Hutchison berfokus pada perluasan dampak sosial dan ekonomi yang dihasilkan dari teknologi tersebut, serta membuka akses yang sebelumnya terbatas bagi masyarakat.

“Apa yang kami bawa adalah bagaimana memperluas dampak sosial dan ekonomi serta membuka akses yang sebelumnya terbatas,” tegas Eni.

Salah satu wujud nyata dari transformasi ini adalah gagasan Indosat AI North Star. Perusahaan ini bercita-cita menjadi bintang penuntun dalam pengembangan dan adopsi Kecerdasan Buatan (AI) di Indonesia. Tujuannya adalah menjadi rujukan utama ketika masyarakat berbicara mengenai solusi AI, pembelajaran AI, maupun adopsi AI, tidak hanya bagi sektor bisnis tetapi juga bagi ekosistem nasional secara keseluruhan.

Eni menyoroti kebutuhan mendesak akan talenta di bidang AI di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa hingga tahun 2030, Indonesia diproyeksikan membutuhkan sekitar 12 juta talenta AI. Namun, saat ini jumlah yang tersedia masih berkisar di angka 300 ribu. “Tetapi untuk mempercepat AI di Indonesia masih dibutuhkan talent dan ini merdesak,” tegasnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Indosat membangun tiga peran utama AI. Pertama adalah AI Native Telco, yang berfokus pada integrasi AI dalam operasional, manajemen, dan jaringan telekomunikasi.

Kedua adalah AI Tech Company (TechCo), yang bertujuan menghasilkan berbagai layanan berbasis AI. Layanan ini mencakup cloud, keamanan digital, solusi anti-scam atau spam, monetisasi data, dan cyber security.

Ketiga adalah AI Nation Shaper. Peran ini menekankan pada pengembangan ekosistem AI dan pemberdayaan talenta AI, yang bertugas mempercepat lahirnya talenta dan solusi AI lokal. Harapannya, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga pencipta solusi AI yang inovatif.

“Kami berharap, suatu saat nanti, pusat-pusat pengalaman ini tidak hanya menampilkan use case dari luar negeri, tetapi solusi AI kreasi anak bangsa sendiri,” harap Eni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *