Red Bull membuat keputusan mengejutkan dengan mendepak Liam Lawson dari tim utama hanya dua balapan setelah dimulainya musim F1 . Penggantian mendadak ini menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan penggemar Formula 1. Sebagai penggantinya, Yuki Tsunoda dipromosikan dari tim satelit, AlphaTauri, untuk berduet dengan Max Verstappen.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Keputusan ini diumumkan menyusul performa Lawson yang kurang memuaskan di awal musim. Lawson mengalami kesulitan beradaptasi dengan mobil Red Bull RB21, yang dikenal rumit dan membutuhkan keahlian khusus untuk dikendalikan. Ia gagal mencetak poin dalam dua balapan dan satu sprint race yang telah dijalaninya.

Sementara itu, Tsunoda, yang sebelumnya tidak terpilih sebagai pengganti Sergio Perez pada musim dingin, kini mendapat kesempatan emas. Ia akan menjalani debutnya bersama tim utama Red Bull di Grand Prix Jepang, balapan kandang bagi dirinya. Ini akan menjadi tantangan bagi Tsunoda, yang akan menjadi rekan setim kelima Verstappen sejak 2018.

Pernyataan Resmi Red Bull dan Analisisnya

Christian Horner, kepala tim Red Bull, memberikan pernyataan resmi terkait keputusan ini. Ia menjelaskan bahwa keputusan tersebut murni didasarkan pada pertimbangan performa dan ambisi tim untuk mempertahankan gelar juara dunia pebalap dan merebut kembali gelar konstruktor. “Sulit melihat Liam berjuang dengan RB21 dalam dua balapan pertama, dan sebagai hasilnya, kami secara kolektif memutuskan untuk melakukan perubahan lebih awal,” kata Horner.

Horner juga menambahkan bahwa pengalaman Tsunoda akan sangat berharga dalam pengembangan mobil RB21. “Kami tahu masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dengan RB21, dan pengalaman Yuki akan sangat membantu dalam pengembangan mobil ini. Kami menyambutnya di tim dan menantikan penampilannya di balik kemudi RB21,” tambahnya. Keputusan untuk mengembalikan Lawson ke AlphaTauri juga dijelaskan sebagai upaya untuk melindungi dan mengembangkannya di lingkungan yang lebih familiar.

Keputusan ini terkesan tergesa-gesa dan kontroversial mengingat Lawson baru saja memulai debutnya di tim utama. Beberapa analis berpendapat bahwa Red Bull terlalu cepat mengambil keputusan memberikan Lawson waktu yang cukup untuk beradaptasi. Di sisi lain, beberapa juga menilai bahwa ini adalah strategi Red Bull untuk memastikan gelar juara dunia tetap berada di tangan mereka.

Apa yang Salah dengan Liam Lawson?

Banyak yang mempertanyakan kesiapan Lawson untuk bersaing di tim utama Red Bull. Dengan hanya 11 balapan F1 di AlphaTauri dalam dua tahun terakhir, pengalamannya masih dianggap terbatas dibandingkan dengan Tsunoda yang sudah memiliki pengalaman lebih banyak di lintasan F1.

Kesulitan adaptasi Lawson dengan RB21 menjadi faktor utama penurunan performanya. Mobil ini dikenal sangat sensitif dan membutuhkan keahlian tinggi untuk dikendalikan secara optimal. Kegagalan Lawson mencetak poin dan performa kualifikasi yang buruk semakin memperkuat keputusan Red Bull untuk menggantinya.

Perbandingan dengan Verstappen semakin mencolok. Verstappen berhasil mengumpulkan 36 poin dan menempati posisi kedua klasemen, sementara Lawson masih nihil poin. Hal ini tentu menjadi tekanan tersendiri bagi Red Bull yang memiliki target juara dunia.

Momen-momen Buruk Lawson

  • Grand Prix Australia (Debut): Terjatuh dalam kondisi hujan, menandakan kesulitan mengendalikan mobil di kondisi basah.
  • Grand Prix China: Finis di posisi ke-12, setelah beberapa pembalap di depannya didiskualifikasi. Ini tetap menunjukkan kecepatannya yang masih jauh dari kompetitif.
  • Kualifikasi: di sesi pertama dalam balapan berturut-turut, bahkan menjadi yang paling lambat di sprint race dan balapan utama di China. Ini menandakan masalah mendasar dalam kemampuan Lawson untuk menyesuaikan setup mobil dan mencari kecepatan maksimal.
  • Red Bull dan Tradisi Keputusan Kontroversial

    Red Bull memang dikenal dengan reputasinya yang tegas dan terkadang kontroversial dalam mengelola para pebalapnya. Namun, keputusan mendepak Lawson hanya dalam dua balapan dianggap sebagai langkah yang ekstrem, bahkan oleh standar Red Bull sendiri. Langkah ini menunjukkan betapa pentingnya konsistensi performa tinggi bagi tim yang berambisi untuk selalu meraih juara.

    Kini, Lawson harus kembali ke AlphaTauri dan berduet dengan Isack Hadjar, rookie asal . Tsunoda, di sisi lain, akan menghadapi tantangan bersama Red Bull, mulai dari Grand Prix Jepang yang akan datang. atau gagalnya Tsunoda di tim utama Red Bull akan menjadi perbincangan di sisa musim F1 .

    Keputusan Red Bull ini tentunya akan memicu perdebatan panjang di kalangan penggemar F1. Apakah keputusan ini tepat dan adil bagi Lawson? Apakah Tsunoda mampu memenuhi harapan yang dibebankan padanya? Hanya waktu yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.