Bulan Ramadan di Sulawesi Selatan selalu diiringi dengan kelezatan kuliner khasnya, salah satunya adalah kue barongko. Lebih dari sekadar camilan berbuka puasa, kue ini menyimpan sejarah dan nilai budaya yang kaya.

Kue barongko konon telah dinikmati sejak masa pemerintahan Kesultanan Gowa. Meskipun sulit diverifikasi secara pasti, terdapat catatan sejarah yang menyebutkan kue ini sebagai hidangan penutup istimewa, hanya disajikan untuk kalangan bangsawan dan raja pada acara-acara spesial. Sultan Hasanuddin, penguasa Kesultanan Gowa yang berkuasa pada abad ke-17, diyakini juga pernah mencicipi kue ini.
Sejarah dan Asal-usul Kue Barongko
Pada awalnya, kue barongko merupakan hidangan eksklusif. Namun, seiring berjalannya waktu, kue ini semakin dikenal dan dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat Bugis Makassar, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari identitas kuliner daerah tersebut. Proses pembuatannya yang sederhana, namun menghasilkan cita rasa yang khas, membuat kue barongko tetap populer lintas generasi.
Mengenal Kue Barongko Lebih Dekat
Kue barongko terbuat dari pisang yang dihaluskan, kemudian dicampur dengan santan, telur, gula, dan garam. Adonan tersebut kemudian dibungkus dengan daun pisang dan dikukus hingga matang. Kemasan daun pisang ini bukan hanya sekedar wadah, tetapi juga memiliki makna filosofis yang mendalam dalam budaya Bugis Makassar.
Bahan dan Proses Pembuatan
Berikut rincian bahan-bahan dan proses pembuatan kue barongko secara lebih detail: Pisang yang digunakan umumnya adalah pisang kepok atau jenis pisang lain yang memiliki tekstur yang lembut setelah dihaluskan. Santan yang digunakan sebaiknya santan kental dari kelapa muda untuk menghasilkan rasa yang lebih gurih dan tekstur yang lebih lembut. Proses pengukusan harus diperhatikan agar kue matang sempurna dan tidak hancur.
Proporsi setiap bahan dapat disesuaikan dengan selera, namun penting untuk menjaga keseimbangan rasa manis, gurih, dan aroma pisang yang khas. Setelah dikukus, kue barongko dapat disajikan hangat atau dingin. Beberapa variasi juga menambahkan sedikit garam untuk menambah cita rasa.
Makna Filosofis Kue Barongko
Bagi masyarakat Bugis Makassar, kue barongko lebih dari sekadar makanan. Nama “barongko” sendiri berasal dari singkatan “barang kumua udoko”, yang berarti “pisang yang ada di dalam itu dibungkus oleh daun pisang juga”. Hal ini melambangkan kejujuran dan keselarasan antara penampilan luar dan isi di dalamnya. Nilai ini sangat penting dalam budaya Bugis Makassar.
Penggunaan daun pisang sebagai pembungkus juga mengandung makna filosofis yang dalam. Dalam budaya Bugis, daun pisang melambangkan “siri” atau harga diri dan martabat. Membungkus barongko dengan daun pisang menunjukkan penghormatan terhadap nilai-nilai tersebut. Tradisi ini menjaga kelestarian budaya dan nilai-nilai luhur yang dipegang teguh oleh masyarakat Bugis Makassar.
Kue Barongko dan Tokoh Nasional
Kue barongko juga memiliki tempat khusus dalam kenangan beberapa tokoh nasional. Presiden BJ Habibie, semasa kecil dan masa mudanya di Sulawesi Selatan, sangat menyukai kue barongko. Beliau juga menikmati kudapan khas Sulawesi Selatan lainnya seperti Botu Pese dan Sanggara Bandang. Kenangan ini memperlihatkan kekayaan kuliner Sulawesi Selatan yang telah dinikmati oleh tokoh-tokoh penting Indonesia.
Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden Indonesia, juga memiliki kenangan yang tak terlupakan dengan kue barongko. Dalam sebuah kisah, diceritakan betapa beliau sangat menyukai kue barongko buatan ibunya. Hal ini menunjukkan betapa kue barongko bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga membawa kenangan emosional yang kuat dan terpatri dalam ingatan.
Pengakuan Resmi sebagai Warisan Budaya Tak Benda
Pada tahun 2017, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia secara resmi menetapkan kue barongko sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia. Pengakuan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap nilai budaya dan sejarah yang terkandung dalam kue barongko, sekaligus menjadi penegasan pentingnya pelestarian warisan budaya kuliner Indonesia.
Kini, kue barongko bukan hanya menjadi hidangan favorit saat berbuka puasa, tetapi juga merupakan bagian penting dari identitas budaya Bugis Makassar yang harus terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi mendatang. Dengan memahami sejarah, nilai budaya, dan proses pembuatannya, kita dapat lebih menghargai kekayaan kuliner Indonesia yang beragam.