Massa aksi menolak pengesahan RUU TNI menjadi Undang-Undang kembali memadati depan Gedung DPR RI pada Kamis, 27 Maret 2025. Aksi yang dimulai sekitar pukul 16.00 WIB ini melibatkan sejumlah besar warga sipil yang mayoritas mengenakan pakaian hitam. Mereka membawa poster-poster berisi tuntutan penolakan terhadap UU TNI yang baru disahkan.

Suasana demonstrasi yang awalnya berlangsung tertib, tiba-tiba diwarnai insiden menegangkan. Massa aksi memergoki seseorang yang diduga sebagai intel, juga berpakaian hitam, mencampuri aksi demonstrasi. Kejadian ini terekam dalam beberapa video yang beredar di media sosial, khususnya di platform X (sebelumnya Twitter).
Dalam video tersebut terlihat massa mengerumuni orang yang diduga intel tersebut. Situasi semakin memanas ketika orang tersebut mengeluarkan pistol di tengah kepungan massa. “Intel, intel, awas pistol ngeluarin pistol, pistol!” teriak massa yang panik. Setelah kejadian tersebut, orang yang diduga intel tersebut langsung melarikan diri menuju arah Jalan Tol Dalam Kota.
Reaksi Massa dan Penyebaran Informasi
Kejadian ini memicu reaksi keras dari para demonstran. Ketegangan tampak jelas dari video yang beredar. Banyak dari mereka yang turut berlarian menyelamatkan diri menghindari aksi yang semakin tidak terkendali. Kejadian ini dengan cepat menyebar melalui media sosial, memicu berbagai macam komentar dan spekulasi.
Beredarnya video tersebut di media sosial juga menimbulkan pertanyaan mengenai peran intelijen dalam mengawasi demonstrasi. Apakah kehadiran intel tersebut memang diperlukan dan semestinya dilakukan secara terang-terangan? Atau justru kehadiran mereka secara sembunyi-sembunyi yang memicu reaksi negatif dari massa?
Kejadian ini juga menimbulkan kekhawatiran akan potensi eskalasi kekerasan selama aksi demonstrasi. Penting bagi aparat keamanan untuk memastikan keamanan dan ketertiban, serta menyelidiki insiden tersebut secara tuntas dan transparan.
Isi Tuntutan Demonstrasi dan UU TNI
Demonstran menolak RUU TNI yang baru disahkan dengan berbagai alasan. Mereka khawatir UU tersebut akan memberikan kekuasaan yang berlebihan kepada TNI dan mengancam hak-hak sipil. Beberapa poin utama yang menjadi sorotan adalah (Sebutkan poin-poin penting dari UU TNI yang diprotes, misalnya: kewenangan TNI di luar bidang pertahanan keamanan, pengurangan pengawasan sipil terhadap TNI, dll.).
Para demonstran menuntut agar pemerintah dan DPR RI meninjau kembali UU TNI dan melakukan revisi untuk melindungi hak-hak sipil dan memastikan adanya pengawasan yang efektif terhadap TNI. Mereka juga menekankan pentingnya keterbukaan dan transparansi dalam proses pembuatan dan pengesahan UU.
Partisipasi Kelompok Lain
Menariknya, berdasarkan informasi yang beredar, selain masyarakat sipil, terdapat pula kelompok penggemar JKT48 yang ikut serta dalam aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI. Keikutsertaan mereka menunjukkan bahwa penolakan terhadap UU TNI mendapat dukungan dari berbagai kalangan masyarakat.
Kehadiran kelompok penggemar JKT48 ini memberikan warna tersendiri dalam demonstrasi. Meskipun latar belakang mereka berbeda, mereka menyatukan suara dalam menolak UU TNI yang dianggap bermasalah. Hal ini menunjukkan bahwa masalah UU TNI menjadi perhatian publik yang luas.
Kehadiran berbagai kelompok masyarakat dalam demonstrasi ini semakin memperkuat tuntutan agar pemerintah dan DPR RI menanggapi aspirasi rakyat dan melakukan revisi terhadap UU TNI yang dianggap kontroversial.
Insiden pengeluaran pistol oleh orang yang diduga intel menjadi catatan penting dalam demonstrasi tersebut. Peristiwa ini membutuhkan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap fakta sebenarnya dan mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang. Transparansi dan akuntabilitas dalam proses penegakan hukum sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik.