Emmanuel Petit, sepak bola Prancis yang pernah membela Arsenal dan Chelsea, mengingat kembali momen bersejarah Piala 1998 dengan penuh haru. Kemenangan telak 3-0 atas Brasil di final menjadi puncak kariernya, sebuah pertandingan yang tak akan pernah ia lupakan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Petit mencetak satu gol dalam laga tersebut, sedangkan dua gol lainnya dicetak oleh Zinedine Zidane. Gol Petit sendiri tercipta di menit-menit akhir, menjadi pengunci kemenangan Prancis atas Brasil.

Dalam wawancara di kanal YouTube Asumsi Segelas Bersama Pangeran Siahaan, Petit menceritakan kisahnya. Ia mengungkapkan bahwa mimpinya menjadi pemain sepak bola profesional muncul sejak masa kecilnya, bermain sepak bola di luar gedung bersama teman-teman. “Saya pikir Anda tidak akan percaya jika saya memberi tahu Anda karena saya masih muda, saya bermain bersama saudara dan teman-temanku. Sudah lama sekali,” kenang Petit.

Mimpi Masa Kecil dan Prediksi Kemenangan Prancis

Petit bahkan berani memprediksi kemenangan Prancis di Piala 1998 jauh sebelum turnamen tersebut dimulai. “Itu sebelum Prancis ditunjuk sebagai penyelenggara Piala 1998. Saya bilang di koran, suatu hari Prancis akan menang. Kami akan mengadakan Piala Dunia di rumah lalu kami akan menang,” ujarnya.

Keyakinan Petit terbukti benar. Prancis, sebagai tuan rumah, berhasil mengangkat trofi Piala Dunia setelah mengalahkan Brasil di partai puncak. Kemenangan tersebut merupakan tonggak sejarah bagi sepak bola Prancis.

Teguran Frank Leboeuf di Tengah Euforia

Di tengah euforia menjelang akhir pertandingan, ketika skor sudah 2-0 untuk Prancis, Petit bercerita tentang momen unik dengan setimnya, Frank Leboeuf. “Kami unggul dengan skor 2-0. Saya bermain sebagai bek tengah… Dan saya berteriak keras, saya bilang, ‘Frank, Frank’. Dia menatapku, ‘Apa?’ Jadi, kami hampir tidak bisa mendengar satu dengan yang lain. Saya bilang kepadanya, ‘Dengar, Frank, kita akan menang di Piala Dunia. Kita unggul 2-0 dan impianku terwujud.'” Leboeuf, yang lebih , justru menegurnya, “‘Hei diam! Kita masih punya satu pertandingan lagi. Masih beberapa menit lagi.'”

Reaksi Leboeuf yang realistis menunjukkan sisi lain dari tim Prancis, sebuah tim yang tidak hanya bersemangat tetapi juga tetap fokus dan terkendali meskipun berada di ambang kemenangan besar.

Momen Krusial Gol Ketiga dan Perasaan Ragu

Gol Petit di menit-menit akhir pertandingan bukanlah sesuatu yang direncanakan. Ia bahkan sempat ragu untuk meninggalkan posisi pertahanannya. “Sebelum akhir pertandingan, dua menit kemudian, kami ada di sudut pertahanan… Dan saya tidak tahu kenapa, tapi ada suara di pikiran saya mengatakan, ‘Ayo, lari seperti kuda gila.’ Tidak ada alasan bagi saya untuk meninggalkan pertahanan karena kami sedang unggul. Masih dua menit sebelum laga usai, seharusnya saya bertahan untuk menjaga pertahanan.”

Namun, insting dan sebuah dorongan membuatnya maju ke depan dan mencetak gol penentu kemenangan. “Namun ada suara di pikiran yang berkata, ‘Ayo kita pergi.’ Lalu ketika saya melihat Christophe Dugarry mengambil bola… Saya berpikir dalam , ‘Wah, ini bisa jadi kesempatan.'” Petit kemudian menghubungkan gol tersebut dengan almarhum saudaranya, sebagai sebuah ‘misi’ yang harus diselesaikannya.

Kisah Petit ini tidak hanya menceritakan tentang kemenangan gemilang Prancis di Piala Dunia 1998, tetapi juga tentang perjalanan pribadi, mimpi masa kecil, dan intuisi yang berperan penting dalam momen-momen krusial dalam pertandingan sepak bola.

Ia menghubungkan keberhasilannya, termasuk gol di final, dengan faktor X, sesuatu yang selalu ada dalam dirinya sebelum, selama, dan setelah pertandingan, menunjukkan adanya elemen tak terduga dan spiritualitas yang turut mempengaruhi perjalanan kariernya. Kesuksesan Prancis di Piala Dunia 1998 sekadar hasil kerja keras tim, tetapi juga campuran keberanian, kepercayaan diri dan sedikit keajaiban.