Aktris Al Rashid mengungkapkan penyesalannya karena gagal mendapatkan peran dalam film live action Snow White. Kegagalan ini terasa lebih menyakitkan karena ia memiliki kesempatan untuk “mengolok-olok” Gal Gadot, pemeran utama film tersebut, yang dikenal sebagai pendukung Israel. , yang vokal menyuarakan dukungannya untuk Palestina, melihat kesempatan ini sebagai untuk menyuarakan pendapatnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Melalui akun X pribadinya, menulis, “ terbesar dalam karirku adalah nggak dapat peran dalam film ini setelah dua kali casting.” Ia bahkan sudah membayangkan bagaimana ia akan “men-troll” Gal Gadot di lokasi syuting dengan mengenakan keffiyeh, simbol Palestina. “Dan nggak bisa troll ini tiap hari di lokasi dengan keffiyehku,” tulisnya, menambahkan emoji bendera Palestina, tangan terkepal, dan emoji hati putih. Ungkapan kekecewaan ini mendapat banyak respons warganet.

Banyak yang penasaran bagaimana Hannah bisa mengikuti casting film Hollywood. Ia menjelaskan bahwa pada November 2021, agensinya di London menawarkan kesempatan casting untuk film tersebut. Proses casting melibatkan pembuatan “self-tape” berupa rekaman dirinya menyanyikan lagu. Hannah memilih lagu musikal Hamilton untuk menunjukkan kemampuan vokalnya.

Hannah bahkan mempersiapkan penampilannya dengan sangat matang. Ia memakai kebaya tercantiknya untuk terlihat “layaknya ratu”, sesuai dengan peran yang ditawarkan. Peran tersebut adalah “Good Queen,” ibu kandung Snow White. “Aku siapin salah satu lagu Hamilton untuk tape-nya, dan pakai kebaya tercantikku biar look like a queen (terlihat layaknya ratu). Eh, lolos deh,” jelasnya. Keberhasilannya lolos tahap awal casting semakin memperdalam kekecewaannya atas kegagalan akhirnya mendapatkan peran tersebut.

Kisah Hannah ini menyoroti beberapa hal . Pertama, ia menunjukkan keberanian dan konsistensi dalam menyuarakan pendapat politiknya, meskipun hal tersebut mungkin berdampak pada kariernya di industri hiburan. Kedua, pengalamannya menunjukkan bahwa bahkan artis berbakat negara berkembang pun memiliki kesempatan untuk mengikuti audisi film kelas Hollywood, asalkan memiliki kemampuan dan agen yang tepat. Ketiga, penggunaan budaya Indonesia (kebaya) dalam proses audisi internasional menunjukkan kreativitas dan kepercayaan diri Hannah dalam mempresentasikan dirinya.

Meskipun tidak mendapatkan peran, pengalaman Hannah memberikan inspirasi bagi para aktor dan aktris lainnya yang memiliki mimpi untuk berkarir di Hollywood. Ia membuktikan bahwa keberanian dan keunikan dapat menjadi aset berharga, bahkan jika tidak selalu menghasilkan hasil yang diinginkan. Kisah Hannah juga membuka diskusi tentang representasi budaya dan politik dalam industri perfilman internasional.

Kegagalan Hannah Al Rashid dalam mendapatkan peran tersebut tentu menjadi pelajaran berharga. Namun, semangat dan konsistensinya dalam memperjuangkan prinsipnya patut diacungi jempol. Semoga ke depannya, ia akan mendapatkan peran yang sesuai dengan bakatnya dan memperbolehkan dirinya untuk tetap teguh pada pendiriannya. Kisah ini juga mengingatkan kita betapa pentingnya keberanian dalam mengekspresikan diri dan memperjuangkan apa yang kita yakini.